Monday, October 09, 2006

Rencana Muscab

musda idiMuscab IDI Cabang Samarinda
Hehehe, kabarnya sih bulan nopember ...
Nunggu berita yang benar ah, masih kabar burung ...
Pura-puranya begini nich: menurut ad/art IDI, maka genap sudah masa kepengurusan IDI Cabang Samarinda periode (apa masa khidmat ya) tahun sekian sampai tahun sekian, karenanya IDI Cabang Samarinda mempersiapkan hajatan tersebut dengan menetapkan susunan penitia pelaksana sebagai berikut: pm
Muscab direncanakan digelar pada tanggal sekian hingga sekian bertempat di Hotel titik titik. Menurut beberapa kalangan internal IDI, ada beberapa kandidat yang diperkirakan muncul dalam bursa calon ketua IDI Cabang Samarinda periode mendatang. Namun beberapa sumber terpercaya masih enggan menyebut nama para dokter yang bakal diusung sebagai calon ketua. dst dst dst ... namanya juga pura-pura nich

kabar kabari: per 13 nopember 06
Ternyata Muscab rencananya digelar tanggal 25 Nopember 2006 di Hotel Mesra ... ya udah nunggu aja friends ...

Seminar ...

Ini juga model doang, masih belum dapat info dari sekretariat .... banyak cara dan gaya untuk bikin seminar, secara virtual kira-kira salah satu gayanya begini:

  1. Kesehatan Anak<

    • Neonatologi: (intern)April-Mei 2007

    • Imunisasi terkini untuk bayi kita: (publik) September 2007

  2. Penyakit Dalam

    • Hubungan DM dan Gagal Ginjal: Juli 2007

    • Reumatologi: Nopember 2007

  3. Kebidanan

    • Reproduksi Remaja: Mei 2007

    • Mengenal Endometriosis: Oktober 2007

  4. Bedah

    • Resusitasi Trauma Capitis: Pebruari 2007

    • HNP Review: Juni 2007

  5. Kesehatan Mata
  6. Penyakit Kulit dan Kelamin
  7. Informatika Kedokteran


Hup, jangan keburu protes friends, ini kan cuman model doang, ngga usah khawatir lab or upf yang belum kesebut, bisa di edit koq. Tantangan bagi kita untuk senantiasa membuat agenda tahunan nan terukur dan terencana ... ya meleset dikit tak apalah

Profil Pengurus

Pengurus IDI Cabang Samarinda
Periode: 2002-2005

Ketua Umum:
dr. H. EdiSyahputra Nasution
Wakil Ketua I:
dr. Syafardi Ibrahim, Sp. OG
Wakil Ketua II:
dr. M. Sadik
Sekretaris:
dr. Bagyo Witjaksono, Sp. PK
Wakil Sekretaris:
dr. Hj. Mieke Dhipa Anggraini, M.Kes
Bendahara:
dr. Hj. Rini Retno Sukesi, M.Kes
Wakil Bendahara I:
dr. Josephine M. Pangemanan
Wakil Bendahara II:
dr. Ani Widyastuti

Seksi – seksi :
  1. Seksi Ilmiah:
    • dr. H. Arie Ibrahim, Sp. BS
    • dr. PMT. Mangalindung Omposungu, Sp. B
    • dr. Lianda Siregar, Sp. PD
    • dr. Hanny Soetojo
  2. Seksi Pengabdian Masyarakat:
    • dr. H. Dadiek A. Sanyoto, Sp. B
    • dr. Yohanes Libut, M.Kes
    • dr. Johannis Banjir
    • dr. Ellen Angkawitjaya
  3. Seksi Kesejahteraan Anggota:
    • dr. Lukas Demo Bakiaq, MM
    • dr. Oemar Budi Ichwanto
    • dr. Rita Rosadi
    • dr. Beatrix Curie Panjaitan
  4. Seksi Publikasi & Dokumentasi:
    • dr. H.M. Arsyad, M.Kes
    • dr. Nanan Surya Perdana
    • dr. Slamet Subagio
    • dr. A. Irwan Irawan, Sp.KK
  5. Seksi Olahraga:
    • dr. H. Tri Hendro Priyanto, Sp. M
    • dr. M. Dasrwis Toena, Sp.KK
    • dr. Parmono
    • dr. Tommy Kartono
  6. Seksi Kesenian:
    • dr. Purherbianto Satriohadi, Sp.An
    • dr. Aswin W. Sastrowardoyo, Sp. OG
    • dr. H. Ismed Kusasih
    • dr. H.R. Joko Martono
  7. Seksi Dana:
    • dr. H. Darwin Adjis, Sp. B
    • dr. Samuel Randabunga, Sp.OG
    • dr. Lukas Tandy Susanto
    • dr. Wahyu Budi Djatmika, Sp.THT

Sekretariat Cabang:
RSUD. A. W. Syahranie
Jl. Dr. Soetomo, Samarinda

seri anak: gagal napas akut

Pengertian
Adalah gangguan sistem pernapasan yang disebabkan adanya gangguan primer pada paru atau gangguan lainnya, sehingga sistem pernapasan tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Perawatan di ruang intensif


Gejala Klinis

  • Kesadaran menurun, agitasi
  • Peningkatan frekuensi napas, berupa: retraksi suprasternal, interkostal, supraklavikular dan retraksi epigastrium, takipneu, pernapasan paradoks.
  • Sianosis
  • Takikardi
  • Bradipneu ( dalam keadaan lanjut )
Pemeriksaan Penunjang
  • Radiologi
  • PaO2
  • PCO2
Pengobatan
  • Bebaskan jalan napas dan pernapasan buatan
  • Oksigenasi 100 % 1 - 2 liter/menit
  • Medikamentosa:
  1. Aminofilin (Larutan 24 mg/ml), pemberian: intravena, dosis: 4-6 mg/kg BB dalam 30 menit dilanjutkan dengan 0,8-0,9 mg/kg BB/jam
  2. Epinefrin * (1 mg/ml 1:1000), pemberian: subcutan, dosis: 0,001 mg/kg BB Maks 0,03 mg
  3. Salbutamol (larutan 0,5 %), pemberian: inhalasi, dosis: 0,05-0,15 mg/kg BB
  4. Terbutalin (MDI 0,2 mg/puff), pemberian: inhalasi, dosis: 1-2 puff maks 6 mg. Sediaan Larutan 0,1 %. pemberian: subcutan, dosis: 0,2 mg/kg BB, Maks 6 mg
  5. Metil prednisolon (larutan 125 mg/mg), pemberian: intravena, dosis: 1 mg/kg BB tiap 6 jam
* International Guidelines for Neonatal Resuscitation 2000 (p:11) Resuscitation of the Newly Born Infant, Amirican Heart Association, 1999 (p:7) Paediatric life support, European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2005 (p:12)

Monitoring
Pemantauan ditujukan pada :
  • Tanda vital (Frekuensi napas, Work of breathing, Frekuensi nadi, Sianosis, Kesadaran)
  • Pemeriksaan Paru
  • Analisa Gas darah
  • Pulse-oxymetry
Kriteria Keluar dari Ruang Intensif
Apabila masa krisis sudah dilampui dan tindakan invasif dipandang cukup, maka penderita dapat keluar dari ruang intensif, dengan kriteria sebagai berikut:
  • Hemodinamik sudah stabil
  • Pernapasan stabil, ditandai dengan jalan napas bebas dan gas darah normal tanpa ETT
  • Kebutuhan oksigen minimal
  • Obat penunjang inotropik, vasodilator, anti aritmia tidak diperlukan lagi atau bila masih diperlukan, memakai dosis rendah
  • Irama jantung terkontrol
  • Tidak diperlukan lagi alat monitor tekanan intrakranial invasif, kateter hemodinamik, suctioning eksesif dan ventilator
  • Gangguan neurologis ( kejang ) terkontrol
  • Penilaian staf medik dan keluarga memutuskan tidak diperlukan perawatan intensif
sumber: Standar Pelayanan Medis KESEHATAN ANAK IDAI 2004
cakmoki


Berpuasa bagi penderita Diabet

Bagi para penderita Diabet yang kadar gula darahnya lebih dari 250 mg% pada pemeriksaan 2 jam sesudah makan atau pemeriksaan gula darah sewaktu, tidak dianjurkan untuk berpuasa. (*)

Contoh jadwal makan Penderita Diabet pada bulan Ramadhan:

Buka Puasa:
  • Makanan Utama Pertama
  • Obat Anti Diabet Pertama dan Vitamin sebagai pengganti yang biasa diminum pada saat sarapan pagi
Sesudah Sholat Tarawih atau ( 2 ) Jam sesudah buka puasa:
  • Makanan Utama Kedua
  • Gerak badan ringan (bagi yang kuat)
Sebelum Tidur Malam:
  • Makanan Kecil (snack)
  • Obat Anti Diabet Kedua (seperti yang biasa diminum siang hari, atau menurut petunjuk dokter)
Makan Sahur:
  • Makanan Utama Ketiga (seperti makan malam pada saat tidak puasa)
  • JANGAN minum obat Anti Diabet pada saat makan Sahur !!!
Sebelum Imsak:
  • Makanan Kecil Kedua
  • Vitamin yang kedua
Jenis dan takaran makanan sama dengan diit saat tidak berpuasa, sedangkan dosis obat sesuai anjuran dokter. Yang perlu diperhatikan:
  • Jangan minum Obat Anti Diabet pada saat makan sahur, karena dapat menimbulkan hipoglikemia atau kekurangan kadar gula darah pada saat bekerja keesokan harinya.
  • Apabila Obat Anti Diabet diminum dua kali, maka obat yang kedua diminum sesudah makan makanan kecil sebelum tidur malam.
  • Bila ingin olahraga ringan, sebaiknya dilaksanakan sesudah makanan utama kedua yaitu sesudah sholat tarawih.
  • Daftar diit yang menyangkut jenis dan takaran makanan, hendaknya meminta petunjuk kepada dokter yang merawat.
  • Apabila ada hal-hal yang belum jelas sebaiknya bertanya kepada dokter yang biasa merawat.
  • Apabila Kadar Gula Darah tinggi dan kondisi badan lemah, sebaiknya tidak usah memaksakan diri untuk berpuasa.
  • Apabila tidak bisa berpuasa karena penyakitnya, harap bertanya kepada ahli Fiqih tentang tatacara mengganti puasanya atau pembayaran Fidyahnya.

Semoga panduan singkat ini bermanfaat
Selamat menunaikan ibadah puasa

(*) Prof. Dr. dr. H. Askandar Tjokroprawiro
cakmoki