Showing posts with label Medical Review. Show all posts
Showing posts with label Medical Review. Show all posts

Wednesday, November 22, 2006

BOR: antara angka dan makna

BOR antara angka dan maknaBOR atau Bed Occupacy Rate atau di negara kita disebut Angka Hunian di institusi perawatan, pernah jadi bahan gunjingan saat bertemu teman-teman tahun lalu. Bulan Juni dan Agustus yang lalu pembicaraan BOR disambung lagi ketika saya nengok ibu. Di Surabaya ketemu sejawat spesialis bedah ortopedi dan spesialis anak yang kebetulan jadi bosnya rekam medik di rs haji. Sayang BOR belum sampai tuntas sudah beralih ke rekam medik yang konon banyak kendala. Persoalan kendala rekam medik juga jadi perbincangan hangat dengan kakak yang spesialis anak di Magelang ... (rekam medik suatu saat akan saya tulis pertengahan 2007 mendatang ... wih lamanya)... maaf friends, mengingat posting ini ada tabelnya, maka kita nge-link via Google Docs & Spreadsheets or klik aja logo Google ... sedangkan tampilan lain yang agak sip, lihat lintas link melalui freewebtown ...
cakmoki

Thursday, November 16, 2006

Protap: Rujukan pada Cedera Kepala

dr. Arie Ibrahim, Sp. BS.
Prosedur Tetap
RUJUKAN PADA CEDERA KEPALA
Tinjauan Aspek Medis

Head InjuryAbstrak. Sistem rujukan kasus-kasus cidera kepala masih merupakan hal yang pelik, terutama di daerah-daerah terpencil. Hal ini menyebabkan angka kesakitan dan angka kematiannya masih tinggi. Tulisan ini menggambarkan tentang aspek-aspek medis dari sistem rujukan tersebut dan diharapkan hal ini dapat disebarluaskan ke dokter-dokter umum dan dokter spesialis yang bekerja di pusat pelayanan primer dan rumah sakit. Kata-kata kunci: sistem rujukan, cidera kepala, daerah terpencil, dokter umum.



catatan: Jurnal karya dr. Arie Ibrahim Sp.BS ini ditulis pada Juli 2006 dan upload beta Blogger IDI Samarinda online pada 16 Nopember 2006. Mengingat tulisan ini menggunakan tabel, maka untuk memudahkan upload, kita gunakan fasilitas Google Docs & Spreadsheets sebagai media office online, sekaligus mengenalkan salah satu media "informatika kedokteran". Fasilitas gratis ini dapat digunakan sebagai media online conference di kalangan medis khususnya Samarinda dan Kaltim. Bagi sejawat yang ingin menayangkan jurnal or review online, silahkan kirim via email kepada pengelola. Siapa menyusul ... ?



Sistem rujukan kasus-kasus cidera kepala masih merupakan hal yang pelik, terutama di daerah-daerah terpencil. Hal ini menyebabkan angka kesakitan dan angka kematiannya masih tinggi ...



selengkapnya klik di sini menggunakan Google Docs & Spreadsheets dengan tampilan sederhana atau klik Freewebtown
dengan tampilan yang agak bagusan.

Monday, October 09, 2006

seri anak: gagal napas akut

Pengertian
Adalah gangguan sistem pernapasan yang disebabkan adanya gangguan primer pada paru atau gangguan lainnya, sehingga sistem pernapasan tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Perawatan di ruang intensif


Gejala Klinis

  • Kesadaran menurun, agitasi
  • Peningkatan frekuensi napas, berupa: retraksi suprasternal, interkostal, supraklavikular dan retraksi epigastrium, takipneu, pernapasan paradoks.
  • Sianosis
  • Takikardi
  • Bradipneu ( dalam keadaan lanjut )
Pemeriksaan Penunjang
  • Radiologi
  • PaO2
  • PCO2
Pengobatan
  • Bebaskan jalan napas dan pernapasan buatan
  • Oksigenasi 100 % 1 - 2 liter/menit
  • Medikamentosa:
  1. Aminofilin (Larutan 24 mg/ml), pemberian: intravena, dosis: 4-6 mg/kg BB dalam 30 menit dilanjutkan dengan 0,8-0,9 mg/kg BB/jam
  2. Epinefrin * (1 mg/ml 1:1000), pemberian: subcutan, dosis: 0,001 mg/kg BB Maks 0,03 mg
  3. Salbutamol (larutan 0,5 %), pemberian: inhalasi, dosis: 0,05-0,15 mg/kg BB
  4. Terbutalin (MDI 0,2 mg/puff), pemberian: inhalasi, dosis: 1-2 puff maks 6 mg. Sediaan Larutan 0,1 %. pemberian: subcutan, dosis: 0,2 mg/kg BB, Maks 6 mg
  5. Metil prednisolon (larutan 125 mg/mg), pemberian: intravena, dosis: 1 mg/kg BB tiap 6 jam
* International Guidelines for Neonatal Resuscitation 2000 (p:11) Resuscitation of the Newly Born Infant, Amirican Heart Association, 1999 (p:7) Paediatric life support, European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2005 (p:12)

Monitoring
Pemantauan ditujukan pada :
  • Tanda vital (Frekuensi napas, Work of breathing, Frekuensi nadi, Sianosis, Kesadaran)
  • Pemeriksaan Paru
  • Analisa Gas darah
  • Pulse-oxymetry
Kriteria Keluar dari Ruang Intensif
Apabila masa krisis sudah dilampui dan tindakan invasif dipandang cukup, maka penderita dapat keluar dari ruang intensif, dengan kriteria sebagai berikut:
  • Hemodinamik sudah stabil
  • Pernapasan stabil, ditandai dengan jalan napas bebas dan gas darah normal tanpa ETT
  • Kebutuhan oksigen minimal
  • Obat penunjang inotropik, vasodilator, anti aritmia tidak diperlukan lagi atau bila masih diperlukan, memakai dosis rendah
  • Irama jantung terkontrol
  • Tidak diperlukan lagi alat monitor tekanan intrakranial invasif, kateter hemodinamik, suctioning eksesif dan ventilator
  • Gangguan neurologis ( kejang ) terkontrol
  • Penilaian staf medik dan keluarga memutuskan tidak diperlukan perawatan intensif
sumber: Standar Pelayanan Medis KESEHATAN ANAK IDAI 2004
cakmoki


Sunday, October 08, 2006

Antibiotika "Membabi Buta"

Majalah Kesehatan Keluarga edisi 06 Juli 2006, memuat penggunaan Antibiotika yang membabi buta sebagai ringkasan pertemuan para pakar yang mengambil tema "Facing the Challenge of Antimicrobial Resistance: Strengthening Strategy".
Isi singkatnya adalah penggunaan Antibiotika yang membabi buta, baik yang dilakukan para dokter maupun masyarakat luas.
Berbagai pemikiran muncul pada pertemuan tersebut, mencari jalan keluar terhadap akibat yang ditimbulkannya.
Prof Dr RHH Nelwan, SpPD-KPTI mengungkapkan perlunya dikembangkan antibiotik baru untuk mengantisipasi perkembangan kuman patogen yang terus bermunculan. Ide ini dilandasi dengan munculnya mikro-organisme generasi baru yang ganas sebagai akibat pemakaian antibiotik yang tidak tepat.
Prof Dr Djoko Widodo, SpPD-KPTI berpendapat perlunya inovasi untuk terapi yang maksimal dengan menggunakan agen anti adhesif yakni bakteri "baik" yang digunakan untuk menghambat bakteri patogen, semisal lactobacillus dan bifidobacterium. Di pihak lain Prof Dr Herdiman T. Pohan, SpPD-KPTI mengungkapkan bahwa saat ini antibiotika yang dipakai untuk mengatasi Staphyllococcus sebagai bakteri penyebab infeksi tersering sudah TIDAK MEMPAN lagi, memunculkan MRSA (Methicillin Resistant Staphillococcus aureus).
Adapun untuk mengatasi MRSA kini dipakai jenis glikopeptid, oxazolidiones, streptogramin atau glisiklin atau dengan kotrimoksazol, fluorokuinolon dan rifampisin.
Intinya diperlukan penelitian yang serius dan berkelanjutan untuk mengatasi resitensi terhadap antibiotika.
Tentu upaya para pakar tersebut patut disyukuri. Namun di balik itu ada hal penting, yakni penjelasan secara massif kepada khalayak agar tidak sembarangan memakai antibiotika. Bersamaan itu pula perlunya menata ulang sistem lalu llintas antibiotika di negeri ini.
Di pihak dokter wajib selalu update ilmu dan membudayakan membaca, tidak mengandalkan ingatan diktat kuliah semata kala sudah terjun di tengah masyarakat.
Selalu berpijak kepada keilmuan dan referensi ketika menangani penderita adalah keniscayaan, tidak mengagungkan "pengalaman" yang sebenarnya tidak pernah mengkajinya secara ilmiah, lebih-lebih hanya berguru kepada brosur kemasan obat, walah....

Di samping itu ... maaf ... para guru juga jangan mengajarkan "nembak" penyakit dengan 3 atau 4 macam antibiotika, niscaya akan ditiru muridnya supaya nampak "sakti".
Sebagai gambaran, di tempat kami tinggal di samarinda pemakaian antibiotika juga tak kalah membabi butanya dengan tempat lain.
Bayangkan ketika penderita yang datang dengan membayar, diberi fluorokuinolon hanya karena pharingitis. Mengapa?

cakmoki